PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Membedah Sosok “Kartini” dari Samarinda: Aminah Syukur

Home Berita Membedah Sosok “kar ...

Membedah Sosok “Kartini” dari Samarinda: Aminah Syukur
Aminah Syukur, nenek Belanda yang menjadi panutan utama perempuan teladan. Foto: Istimewa

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Gedung Perpustakaan Kalimantan Timur dipenuhi para pencinta sejarah dan literasi. Mereka hadir untuk menyimak bedah buku Aminah Syukur: Kiprah Perempuan di Kalimantan Timur Tempo Doeloe, karya sejarawan Muhammad Sarip.

“Buku ini menyoroti Aminah Syukur sebagai panutan utama perempuan teladan, terutama dalam kiprahnya di bidang pendidikan,” ujarnya di Samarinda, Kamis lalu (18/4) dikutip dari Antara.

Aminah Syukur lahir 20 Januari 1901 dengan nama asli Atje Voorstad. Setelah memeluk Islam, ia berganti nama menjadi Aminah. Suara hidupnya banyak diarsipkan oleh Ellie Hasan, keturunan keluarga besar Aminah, hingga menjadi pondasi riset delapan tahun Sarip.

Mengapa perempuan Samarinda saat itu jarang mengenyam bangku sekolah? Pertanyaan inilah yang menggerakkan hati Aminah dan suaminya, Mohammad Jacob.

Pada 1928, mereka mendirikan Meisje School—sekolah khusus putri yang kemudian juga menerima murid laki laki, termasuk sang keponakan, Abdoel Moeis Hassan, kelak pejuang kemerdekaan di Kaltim.

Aminah bukan sekadar guru birokrat. Setelah jam pelajaran selesai, ia kerap berkeliling rumah murid untuk mengajar privat. Semua itu tanpa bayaran. “Pengabdian beliau melebihi tanggung jawab manusia normal. Bukan cuma guru reguler, tetapi murni demi kemajuan anak didik,” kenang Sarip di hadapan sekitar 100 peserta.

Dulu, seperti dikutip dari Kaltim Kece, dia lahir sebagai Atje Voorstad pada 20 Januari 1901. Setelah memeluk Islam, ia mengambil nama Aminah—sebuah kisah yang kemudian diperdalam oleh Ellie Hasan, salah satu keturunan keluarganya. Bersama suami, Mohammad Jacob, Aminah mendirikan Meisje School pada 1928.

Saat itu, Samarinda masih terpaku pada norma kolonial: sekolah-sekolah perempuan nyaris tak pernah membuka pintunya untuk anak-anak pribumi. Meisje School hadir bukan sebagai institusi elit, tetapi sebagai sarana membangkitkan rasa percaya diri dan kecerdasan kaum perempuan.

Bukan hanya sekadar berdiri di depan kelas, Aminah kerap menyusuri gang gang kecil menjejakkan kaki ke rumah rumah muridnya untuk mengajar privat—semua tanpa menerima sepeser pun bayaran. Di SD Negeri Sungai Pinang, SD Permandian, bahkan di rumahnya di Wilhelmina Straat (kini Jalan Diponegoro), ia menabur ilmu dan kedisiplinan.

Keponakannya, Abdoel Moeis Hassan, yang kelak memimpin perjuangan Republik di Kaltim, adalah salah satu saksi betapa gigihnya sang “Nenek Belanda” belajar mengukir semangat.

Delapan tahun riset Sarip menelusuri arsip–arsip kuno, koran kolonial, hingga wawancara para saksi hidup. Hasilnya ia tuangkan secara deskriptif, namun sarat detil yang mengundang pembaca menggali lebih jauh ke buku-buku pendahulunya seperti Histori Kutai dan Historipedia Kalimantan Timur.

Sementara itu, Endang Effendi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menegaskan perpustakaan adalah jantung peradaban. "Dengan membudayakan membaca sejak dini, kita membangun fondasi masyarakat cerdas dan inklusif,” jelasnya.

Ke depannya, kolaborasi antara Dinas, GPMB, Kemdikbud, dan Komisi X DPR RI yang diwakili Hetifah Sjaifudia ndiharapkan terus menumbuhkan literasi, sejalan perayaan Hari Kartini. “Perempuan sejatinya ‘agents of transmission’—penjaga dan penyambung nilai-nilai kebudayaan,” jelas Hetifah.

Setelah hampir empat dekade mengabdi, Aminah berpulang di Jakarta pada 3 Maret 1968. Dua tahun kemudian, tepat di Hari Kartini, jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa di Samarinda. Namanya kini menjadi jalan utama di kota ini, diabadikan pula pada bangunan SMP Aminah Syukur, dan terpampang dalam neon box di teras Museum Samarinda. Lewat kisahnya, kita diingatkan bahwa satu sosok berani dan penuh dedikasi mampu menorehkan perubahan abadi.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :